Pages

Monday, June 11

Wanita itu menangis.

Wanita itu sedang duduk meringkuk. Melamun. Di deretan pertama anak tangga beton yang menghubungkan sebuah gang sempit. Entah ia melamunkan soal apa dan tentang siapa. Mungkin pacarnya yang sedang marah, atau mantannya yang tak juga kembali, atau tentang keluarga yang ditinggalkan demi memenuhi tunjangan finansialnya, atau bahkan tentang masalah politik di negeri ini?
Yang jelas wanita itu selalu duduk meringkuk di jam segini. Dengan muka bersedih.

Terkadang, saya ingin sekali menyapanya. Ya hanya sebatas menyapa saja, tak lebih.
"Hai mbak," "Ngalamun aja," "Lagi ngapain mbak?" atau "boleh saya duduk disebelah embak?"
Tapi saya rasa pertanyaan itu terlalu konyol untuk diri saya sendiri(bahkan untuk wanita itu)
Jadi, ketika saya lewat di depannya, saya hanya diam. Walau saya tau, ia melirik ke arah saya. Wanita itu benar-benar berparas polos. Baik, pun ramah(meski terlihat seperti anak ABG)
Ah iya, apa mungkin ia memang anak baru gede? Jadi gelagatnya labil seperti itu? Tapi dari solekannya ia tak mengindikasikan bahwa ia ABG. Apa jangan-jangan saya yang terkecoh oleh penampilannya? Sebab saya Gampang sekali terkecoh oleh wanita di sekeliling saya, dan gilanya, saya tak pernah merasa bahwa saya terkecoh.(ah fak!)

Baiklah. Kita kembali pada wanita itu.
Sekarang ia sedang memegang sebuah handphone klasik. Mungkin ia jenuh, jenuh dengan hidup ini, jenuh menunggu sesuatu yang tak pantas untuk ditunggu. Jadi ia iseng meyetel lagu-lagu. Kemudian saya medengarkan dengan mendalam. Ternyata yang ia putar adalah lagu-lagu kesedihan, lagu tentang kenangan, kenangan yang membangkitkan sesuatu dalam hati wanita itu.
Dan tak lama kemudian, ia pun menangis. Air matanya menitik. Jatuh.
Hujan pun turun..


















Jogja,

0 comments:

Post a Comment