Pages

Monday, February 3

Mamah

Tulisan ini kutulis pukul sembilan pagi. Selepas aku menenggak air putih dan menghisap sebatang rokok ketengan –dengan mencuci mukaku terlebih dahulu, tentu saja. Disebelahku, pulas tertidur seorang pemuda kurus dengan posisi tangan mengapit guling. Sepertinya ia sedang mimpi bertemu Rastri –wanita yang membuatnya sadar bahwa melepaskan bukan berarti meninggalkan. Dan tepat di hadapanku tivi 14inch bernama Samsung, mengintervensi laju kepalaku, seperti sedang mengatakan; kau tidak sendiri. Aku disini, sama sepertimu –kesepian.

Dan oh ya,catatan ini khusus kutulis untukmu. Untuk wanita yang sering kupanggil Mamah dalam setiap SMS-SMS gila atau pertemuan-pertemuan absrak. Mungkin tulisan yang akan kau baca ini akan membuatmu mengerutkan dahi, atau bertanya-tanya maksud dari tulisan ini. Tenang saja, jangan khawatir, kau tak perlu memahaminya secara dalam-dalam, kau hanya perlu membacanya saja. Ya, tak lebih dari itu.Iqro.

Begini…
Hai Mah, apakah kau percaya bahwa ketika manusia bermimpi, ada sesuatu dibawah alam sadarnya yang sedang bekerja untuk memberikan pertanda? Jika iya, anggukan kepalamu.

Dan apakah kau percaya, jika mimpi adalah jembatan dimana manusia bisa saling mengkoneksikan satu sama lain? Jika iya, tetap anggukan kepalamu.

Apakah kau juga percaya, mimpi mampu membangun unsur-unsur terpenting dari lima huruf absurd itu? Cinta. Jika iya, terus anggukan kepalamu.

Jika aku memimpikanmu, dan kau juga memimpikanku, apakah itu juga termasuk deretan panjang skenario Tuhan yang sering kita sebut sebagai takdir? Jika iya, pertahankan angukan kepalamu,

Terakhir, Mah. Apakah defenisi yang benar-benar defenisi dari mimpi itu sebenarnya?

Pause

Ya Mah, aku rasa ini masih terlalu pagi untuk memikirkan hal-hal aneh itu. Hal-hal yang semoga akan kita temukan jawabannya ketika tua nanti. Maka, sudahlah Mah. Biarkan pertanyaan-pertanyaan itu mengendap dalam kepalamu. Biarkan menyepikan diri dari hiruk-pikuknya zaman dan keadaan. Pada waktunya ia akan mengungapkan siapa jati diri yang sebenarnya. Jangan dipikirkan. Nanti kau sakit, dan aku paling tidak suka melihatmu sakit –nanti aku juga jadi sakit. Semesta pun juga sakit.

Play
 
Mah, sudah bangun kau? Aku tahu kamu belum bangun. Sebab saat aku SMS, kamu tidak membalasnya.(?) Tak apa, aku tahu kau sibuk. Toh, dengan melihat fotomu di Facebook saja, sudah membuatku tenang kok. :)Aku sedang melihat profilmu, Mah. Ada fotomu disana. Ah, lucu. Lucu sekali. Aku suka. Dan aku jadi membayangkan bisa mengajakmu ke suatu tempat dimana waktu bisa berhenti. Dimana luka-luka akan menghilang kemudian berganti dengan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana. Tapi ah, kurasa dengan bersamamu setiap waktu saja, sudah membuat duniaku berhenti, lah. Jadi aku tak akan mengajakmu kemana-mana. :D

Oh ya Mah, nanti kalau kita bertemu, aku ingin menanyakan sesuatu padamu -sekedar untuk memastikan saja; sebenarnya dari mana kau dapatkan mata lautmu itu? Juga alis pakismu?
semoga kau bisa menjawabnya ya Mah. :)

***

Mah, apakah kau mencitaiku dengan segenap hatimu?

***

Mah, beberapa hari lalu, kita sempat membicarakan panjang lebar tentang masa lalu –orang-orang yang ada dibelakang.  Orang yang pernah mengisi hari-hari kita dengan bunga-bunga atau puisi-puisi cinta paling purba. Kau setuju dengan pendapatku yang bahwa perasaan itu bisa hilang tapi kenangan tidak. Kau seperti  juga merasakannya. Ya Mah, aku bersumpah demi Lenovo, semua orang juga merasa seperti itu! Tidak bisa tidak. Maka, tetaplah seperti itu. Dan aku akan mencintaimu dengan segenap hatiku.

Mah, pagi ini aku merasa sedikit bahagia. Sebab semalam tadi aku bisa mendengar suaramu yang kata teman-temanku seperti Syahrini lagi mandi. Meski ada sedikit kejutekan disuaramu, but im fine. Aku suka apa pun yang tidak aku suka darimu dan aku harus menyukainya –itu seperti berlari mengejar matahari kan Mah? Berlari tidak ada habisnya-habisnya, dalam menyukaimu. :)

Oh ya Mah, kau secara tersirat pernah bilang bahwa berjuang itu harus bersama-sama. Tidak boleh masing-masing. “Bahagia, ya bahagia berdua. Sakit, ya sakit berdua.”Begitu katamu penuh emosi. Ya Mah, aku tahu itu. Tapi ah, ada sesuatu yang sebenarnya tak kau tahu dariku. Dan rasanya aku bisa menyangkal itu jika aku mengatakannya padamu. Tapi jangan sekarang, tidak sekarang. Ada waktunya. Dan kuharap kau sabar menunggu…

***

Mah, apakah kau mencintaiku dengan seluruh hidupmu?

***

Mamah yang baik,
Jika aku pergi saja bagaimana? Seperti apa yang dirasakan pacarmu ketika kau menghempaskannya kemarin lalu-lalu.

***

Melihat dan mendengar suaramu, Mah. Ah, tak ada habis-habisnya rasa rinduku. Melihatmu dari jarak, mengamatimu dari sudut yang lain, mendengarkanmu dari tempat yang terasa jauh dan tak terjangkau, selalu membuatku minder sendiri Mah. Apalagi dengan segala macam kebaikan-kebaikanmu. Ya Tuhan…

***

Mah, apakah kau yakin aku lelaki yang pas untuk anak-anakmu?

***

Segitu saja  catatan ini kutuiis untukmu. Aku tak mau panjang lebar, meski ada beberapa hal yang masih ingin aku bicarakan disini,tapi, ya kau tahu kan, kita harus menunggu. :)


Selamat beraktivitas, Mah
Selamat merencanakan hidupmu.
Selamat bekerja dalam agenda-agenda rumitmu.
Aku disini, setia menunggumu pulang.

Dari aku.





Papah.



NB
Jangan selalu merasa kau sendiri. Meski dalam beberapa hal kau harus menyelesaikan semuanya sendiri. Ingat kan, aku selalu punya rencana mengganti nama belakangmu dengan nama belakangku? Ya, kelak Mah. Ketika kita sudah yakin dan mantap. Percaya padaku; im yours. :)


Obrolan Intim Dengan Pak Yanto.



“Dari mana sebenarnya kepercayan itu ada? Dari langit? Dari pilihan itu sendiri? Atau dari pengalaman yang penuh kesakitan?”

Malam minggu. Tanggal 23 bulan sebelas pukul 19.00; begitu apa yang dikatakan ponsel yang baru saja kugeletakkan di atas tivi. Malam ini aku tidak kemana-mana. Malam ini aku tak ada janji. Malam ini aku hanya bernyanyi lirih-lirih di kos. Setengah jam kemudian aku berhenti bernyanyi. Setelah itu aku meminjam Notebook milik temanku. Aku menyalakannya, dan menunggu siap dipakai. Tivi masih menyala, pintuku masih terbuka setengah, dan gelas dihadapanku masih kosong sejak aku tinggalkan 10 jam yang lalu. Kemudian aku menulis ini. Sebuah catatan yang tidak benar-benar penting. Catatan ini tak kukhusukan untuk siapa pun. Tulisan ini kutulis bukan untuk dia, dia, dia, atau dia. Tulisan ini untuk diriku sendiri. Untuk keburukan yang menyeringai disenyumanku. Untuk kebahagiaan yang belum sempurna di otakku. Untuk beberapa bait pikiran yang minta di ungkap. Untuk keresahan-keresahan yang membelit gerakku. Selebihnya, catatan ini kutulis; untuk memuaskan rasa rinduku dalam mengetik!

Oh ya, sebentar-sebentar, aku baru ingat, aku belum membayar es tehku yang kupesan di Pak Yanto tadi. Tunggu sebentar, aku mau bayar dulu…

***

Malam minggu. Tanggal 23 bulan sebelas pukul 22.17; begitu apa yang dikatakan ponsel yang kali ini kugeletakkan di atas “tempat tidurku”. Aku sedang tidak merasa sepi. Aku sedang tidak merasa sakit. Aku tak merasa ditinggalkan. Aku tak merasa “anjing”. Bahkan aku juga tidak merasa hidupku tidak adil. Hidupku baik-baik saja. Aku dalam kondisi yang tak diragukan. Aku sehat. Dan itu baru saja kurasakan setelah aku berbincang di angkringan bersama Pak Yanto.

***

“Sepine…” kataku mengagetkan Pak Yanto yang sendu menatap langit.
“Iyo. Cah-cah podo muleh kabeh. Sepi!!” jawabnya sambil membenarkan duduknya.
“Kie Pak, es teh siji.” Aku memberinya uang sepuluh ribu.
Kemudian aku duduk di bangku yang tengah bermimpi. Menunggu Pak Yanto memilih-milih uang untuk kembalian. Aku melihat dagangan Pak Yanto yang masih sangat lengkap. Entah siapa yang menggerakan tanganku, aku mengambil sate usus dan sate ati. Lalu disusul tahu goreng.

“Kopi item pak.” Kataku. Sementara Pak Yanto masih sibuk memilih-milih uang.
“Pake susu, ndak?”
Aku diam sejenak. Lalu menganggukan kepala.
“Susu sing kiwo opo sing tengen?”
Hahahahaha.. kami tertawa.

3 menit kemudian, kopi susuku sudah jadi, dan aku menyulut Gudang Garam Profesional.
Pak Yanto kembali duduk setelah mengembalikan uang kembalian padaku.

Ya, malam ini terasa mistis. Dari ujung gang sampai ujung gang, tak ada orang sama sekali. Hanya aku dan Pak Yanto –juga telinga Tuhan. Untuk memecah sepi, aku iseng berkata pada Pak Yanto.

“Ketoke wis wani muleh Klaten kie.” Kataku setengah tertawa dan melirik kearah uang yang dihitung Pak Yanto.
Pak Yanto tak menjawab. Ia hanya tersenyum.
“Buka angkringan disini, udah berapa tahun pak?” sambungku.
“Lagi wae kok. 22 Desember ngko, pas telung tahun.”
“Hemmm..”  aku menganggukan kepala setelah asap rokok keluar dari mulutku.
“La sebelumnya kerja dimana pak?”
“Neng Semarang. 16 Tahun jaga angkringan juga.” Pak Yanto memasukan uang yang dihitungnya kedalam saku baju.
“Wahhhh.. suwi pak.”
“Iyo.”
“Penak nang endi Pak, Semarang po neng kene?”
“Neng kene nuw.” Jawab Pak Yanto sambil menyulut Surya 16. Kemudian ia mengangkat kaki kananya dan menatap wajahku. Aku tersenyum. Aku kira ia merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaanku. Aku diam –asap rokok keluar lagi dari mulutku.
“Neng Semarang jane rame, Res. Tapi yo ngono kuwi!!” katanya. Intonasinya sedikit meninggi.
“ Ngono kuwi piye, pak?”

Black Out…

***

Dua jam lebih Pak Yanto bercerita tentang segala hal yang sebenarnya bukan hakku untuk mendengarkannya. Mulai dari keluarga, pendapatan, hutang-piutang, bahkan sampai masalah-masalah pribadi. Jujur, mataku sempat berkaca-kaca di beberapa bagian cerita yang ia tuturkan. Aku merasa…. Ah, sudahlah. Ya, aku sadar apa yang kudengar dari Pak Yanto juga pernah kudengar di beberapa stasiun televisi. Bedanya, tak ada Host yang ikut-ikut menangis. Ada sebuah omongan Pak Yanto yang membuatku jadi memperlambat laju asap rokok yang keluar dari mulutku;

“Kepercayaan itu bukan tentang bagaimana kamu percaya sepenuh hati pada se(suatu)seorang. Menyerahkan segalanya kepada dia atau dia tentang hidupmu. Kepercayaan kadang harus diuji. Harus digoyang-goyangkan, supaya kamu bisa terus percaya bahwa kepercayaan itu ada; ada dan hidup dalam hatimu. Bukan sekedar kata-kata motivasi  yang sering dibilang pacarmu atau siapa pun yang sok tahu. Ingat, Tuhan menyukai orang-orang yang berfikir bukan?”

(Kata-kata di atas, tak persis diucapkan seperti itu. Tapi intinya seperti itu. Aku lupa, sebab panjang sekali dan memakai bahasa jawa. Aku hanya menyederhanakannya menjadi seperti itu.)

***

..aku jadi berfikir; iya, aku tahu. Aku tahu. Aku tahu Pak Yanto. :’)

 ***

Lalu dua wanita asing datang dari barat dan memesan es teh. Mereka terlihat bahagia dengan berbicara keras-keras. Disusul dengan tawa-tawa aneh. Aku hanya tersenyum terpaksa, dan Pak Yanto juga ikut tersenyum. Hidungku mencium bau parfum yang segar. Ya, aku tahu, ini malam minggu. Bla, bla, bla…

“Piro pak? Kopi siji, tahu goreng, karo satene loro?”
“Mangewu.”
Aku memberikan uang pas lima ribu kemudian kembali ke kamarku. Ke kosku. Ke hidupku. Ke anganku. Ke kenanganku. Kepadamu yang kini mungkin sudah tidur.











Jogja,
Oh ya, kau tidak childish kok. :)

Sunday, July 14

Karena aku menyukai apapun saja di kamu.


Aku menulis ini setelah aku selesai membaca sebuah buku. Dan ini di warnet.

Kau dan aku tak pernah bisa didefinisikan. Dan meskipun kita takkan pernah menjadi nyata, tapi aku tahu perasaan ini lebih dari nyata.” – Fiersa Besari.

Entah harus kumulai dari mana. Aku bingung harus berkata apa disini. Aku mau merancau panjang tentang hari-hari selepas kejadian menyesakan itu menimpaku. Ya, sepertinya aku ingin berkeluh kesah di tulisan ini. Bagaimana aku yang sejatinya tidak suka dengan sebuah kehilangan, terpaksa harus merasakan itu lagi. Lagi!

Ah tapi sebentar, kurasa aku tak mau menuliskannya sekarang. Sebab aku tahu ini bulan Ramadhan. Bulan suci yang akan jadi hal bodoh jika aku harus berkeluh kesah terus menerus–meskipun itu harus. Aduh.

Begini, aku akan menuliskan sesuatu tentang seseorang saja. Dia yang tak pernah kalah oleh waktu, dia yang bisa bangkit dan mengajak orang di sekelilingnya bangkit. Ya, dia seorang yang akhir-akhir ini semakin dekat denganku. Dia adalah.. kita sebuat saja namanya Melati. Tadinya aku mau membuatkannya puisi, atau beberapa baris sajak yang kutahu sangat ia sukai. Namun, ah, tentu saja ia lebih berarti dari itu. Tentangnya yang setiap saat datang dan membuatku bertanya-tanya; “Ya Tuhan, apakah ini wanita yang ada di iklan parfum itu?”

Bebertapa hari yang lalu, atau lebih tepatnya tiga minggu yang lalu, saat aku begitu butuh pegangan dan butuh penawar  racun dari sakitnya kehilangan. (kehilangan disini bukan kehilangan wanita, cinta atau apapun itu yang berkaitan dengan hormon dopamine). Aku kehilangan sesuatu yang benar-benar menyesakan! Sesak!
Ia datang mengulurkan tangan padaku saat aku mengumpulkan air mata di pojokan sepi. Ia memberiku senyum, tawa, dan setidaknya setitik kebahagiaan. Ia seperti Bunda Maria jika aku melebihkannya. Hehe..
“Aku nggak suka liat kamu sedih.” Begitu katanya setelah aku selesai menyusun air mataku kembali.
Lalu aku tersenyum... 

Dan sekarang saat aku menuliskan ini, aku pun tersenyum. Entah kenapa dari zaman aku memakai kaos kaki bolong , sampai sekarang aku memakai kaos kaki yang tidak bolong, ia selalu hadir ketika aku kesusahan. Begitu banyak pertolongan-pertolongan yang ia berikan secara ikhlas dan cuma-cuma. Ah, makannya aku bingung harus melakukan apa untuk sekedar membuatnya merasa bahwa aku disini; untukmu.

Singkat cerita, puasa ramadhan jatuh di hari kedua; aku sakit. Ah, sungguh aku menyesalinya. Aku jadi tidak bisa puasa.Ia kembali datang, kali ini ia tidak sekedar membawa senyum, tawa, atau setitik kebahagiaan. Lebih dari itu, ia membawaku kembali untuk sembuh –meskipun disini Allah ikut ambil peran. Ya, ketika aku sakit aku tidak berani untuk makan atau minum walau secuil dan setetes. Sebab entah kenapa aku akan langsung muntah. Dan untuk mensiasati itu, aku harus makan buiah pir dan minuman soda atau isotonik tepat di tengah malam. Aneh ya? Aku juga heran. Saat aku membutuhkan pertolongan, ia datang. Ia membawakanku hal-hal yang kubutuhkan ketika aku sakit. Apa saja? Ah, itu rahasiaku dan ia dan Dia. :)
Dan kau tahu hal yang paling istimewanya; ia merawatku! Ya Tuhan, ia benar-benar seorang penyelamat.
Aku pun membaik dan akhirnya sembuh. Sungguh aku sangat berterima kasih pada wanita bernama Melati itu. Sungguh-sungguh berterima kasih.

Namun, ada satu permintaanku yang harus kau patuhi, jika kau membaca ini.
Tolong jangan pernah menanyakan bagaimana bentuk perasaanku pada mereka yang kau kira dekat denganku. Karena kupastikan kau tak akan butuh itu, apalagi aku. Bagaimana? Sanggup?

Tetaplah jadi dirimu. Tetaplah jadi dirimu. Tetaplah jadi dirimu. Karena aku suka itu. Tetaplah berkerudung meski aku tak suka wanita berkerudung. Karena aku menyukai apapun saja di kamu. :)


 













Jogja,





Saturday, May 11

Jangan lupa untuk pulang, ya? :)

Hallo kawanku. Apa kabar lukamu? Sudah mengering? Bagaimana Mahameru? Oh iya, masalah SMSmu kemarin malam... Begini;

Aku tahu kamu sudah menghabiskan banyak waktumu untuk pendakian panjang di banyak pegunungan. Tentu saja aku juga tahu kamu tidak suka naik gunung. Kamu hanya berharap lukamu bisa sembuh disana. Di gunung. Di tempat yang konon begitu banyak keajaiban tercipta. Jujur aku tak punya kuasa apapun untuk melarangmu melakukan tindakan tersebut, karena toh aku juga sedang menyembuhkan lukaku. Karena bukankah orang yang lagi menata hati itu bebas melakukan apapun? Hanya saja aku tidak naik gunung. Aku lebih suka menonton Film di laptopku. Sebab, entah kenapa Film membuatku baik-baik saja. Sebelum aku menulis ini, aku menonton beberapa Film yang "Aneh". Salah satunya Life of Pi. Dimana tiga agama ada dalam diri seseorang. "Apa salahnya punya agama banyak?" begitu kata Pi.

Dan kawanku. Kembali pada permasalahanmu.

Sebenarnya jika menurutku, dia, mantanmu itu, hanya perlu hadir sebagai kenangan yang tidak bisa lagi menyakitimu. Kenangan yang hanya diam di ujung ingatanmu, tanpa kecuali. Maka saranku; berlarilah kawanku, sekencang yang kau bisa, sekuat tenagamu. Kemudian melompatlah. Tertawalah, menangislah, rasakan hidup. Setelah selesai, tundukan kepalamu sejenak. Kemudian syukurilah Tuhan pernah mencoba hatimu dengan rasa yang paling sakit, tapi kau bisa selamat dan bertambah kuat. Dan bila lukamu sudah sembuh, jangan lupa untuk pulang, ya? :)












Jogja

Wednesday, May 8

"Aku mencintaimu di segala kondisi, sayang"

Aku sudah sangat jauh melupakan kisah sedih dari sebuah kepergian yang brengsek. Yang terkadang bisa sangat membahayakan kesehatan tubuhku. Itu sudah beralangsung cukup lama, sampai pada malam ini akhirnya malah muncul lagi. Sebenarnya ini bukanlah sesuatu yang begitu penting, hanya saja entah kenapa, sekali lagi, ini jadi begitu penting! Tadi aku melihat fotonya, ia mengenakan kemeja pink dan rambutnya di ikatkan ke belakang. Ya Tuhan. kenapa wanita bisa begitu mempengaruhi ketika rambutnya di ikat? Kemudian aku menyapanya; "Hallo nona senja.." tapi ia tak menggubris. Sialan! Ia sudah benar-benar melupakannku.

Kadang aku suka membayangkan ia datang padaku, entah siang entah malam entah pagi entah kapanpun itu. Dengan membawa serenteng nasi putih beserta lauk pauknya. "Ini buat kamu. Tadi aku yang masak. Kalau nggak enak jangan bilang nggak enak." katamu dengan suara kecilmu. Aku hanya tersenyum, dan hatiku bersabda;"Makanan apapun jika berada di tanganmu, adalah orang tolol yang mengatakan tidak enak."
Ah, kenapa kenangan begitu tak bisa terlepas, sedangkan waktu terus saja beranjak?

Terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian! Maka kuingat-ingat lagi keromansaan aku bersamanya ketika bumi masih biru. Ketika jam tujuh pagi selalu disibukkan dengan sarapan dan memakai sepatu. Ketika matahari, bulan, dan bintang gemintang masih sangat bersahabat. Ketika, nama samaranku, adalah; Zidane! :D

Dulu, jika kami bertengkar, kami salalu membanting ponsel. Beruntung, saat itu ponselku masih hitam hijau. Dan ponselnya sudah ada mp3nya. Beberapa kali ia kerusakan ponsel, dan beberapakali itu juga aku kerusakan ponsel. Pernah suatu hari, aku ketahuan membonceng wanita(padahal itu kakanya sendiri) ia marah besar, sampai seluruh semesta ia kutuk sedemikian rupa. "Itu kakak kamu, sayang." kataku mencoba menjelaskan. "Iya,aku tahu. Tapi kenapa kamu nggak minta ijin dulu sama aku?!" katanya parau. Aduh, duh, kenapa wanita suka sekali menaruh kaca-kaca di matanya ketika belum waktunya datang bulan?

Kemudian, ada lagi kejadian yang membuatku masih sering berharap jatuh cinta pada wanita sepertinya.

Begini..

Sama dengan pasangan pada umumnya, yang masih rajin mencurahkan perhatian dalam bentuk-bentuk yang bisa kita tebak. Seperti membelikan pulsa, membelikan es jus, menaruh coklat diam-diam di tas sekolahnya, mengerjainya dengan mengganti nomer ponsel kita, atau barangkali sok-sok kenal dengan orang tuanya supaya keliatan anak rajin dan soleh. Nah, si orang yang lagi saya bicarakan ini juga sering melakukan itu. Tapi anehnya ia selalu berhasil membuat saya berkata; "Anjing! Ini cewe emank bener-bener tulus! Tanpa embel-embel, cuk!"
Pada suatu siang yang panas. Ia datang dengan kaos hijau ketat juga gelang warna putih di pergelangan.


..bersambung


 

Saturday, April 13

Arinnadya Nasluh

"Arin, darimanakah datangnya kesedihan jika gelas-gelas ini selalu terisi dan terangkat? Padahal waktu begitu berbaik hati dengan memberikan ruang tuk tertawa. Aduh Rin, malam ini semua jadi kasat."

Arinnadya Nasluh, aku merasa dingin sekarang. Semoga kamu tidak dingin. Dan aku akan berkeluh padamu tentang sesuatu yang meresahkan. Mungkin buatmu tak ada pentingnya. Tapi coba bacalah saja sampai selesai. Dan tentu saja baca atas nama ketiadaanmu.

ehem..

Arin.

Arin, aku sudah terlalu jauh berjalan dalam kolom-kolom yang disediakan nasib. Berjibaku menantang angkuhnya batu-batu dalam semesta yang keras. Sampai udara pun jarang menimpa paru-paru. Tapi sepertinya, disini Rin, segalanya sudah tak berbentuk. Sudah tak sesuai aturan. Sudah malesin. Sudah jelek. Semua sedang tak baik-baik saja. Ya, Rin. Seperti sebuah kutukan yang mematikan! Maka Rin, malam ini kupandangi ujung-ujung hujan yang runcing. Kuciumi aroma udara yang syarat akan kepergian. Supaya sejenak bisa ku impikan hidup melunak dan tak selalu meninggalkan. Eh tapi Rin, ngomong-ngomong, kenapa kita selalu ingin pergi, tapi cepat pula ingin kembali, ya? Sialan! Gelas-gelas ini menertawaiku lagi, Rin. Tapi biarlah. Ah, andai aku jadi gelas saja.











 












Jogja,

Saturday, March 30

Yang kedua.

Malam ini malam minggu. Saya sudah tahu. Saya rasa malam ini akan banyak keringat dan cucuran air mata, entah dimana pun itu. Saya prediksi, kira-kira nanti antara jam sembilan sampai jam duabelas, disini, di facebook ini, akan banyak keluh kesah yang semestinya tak penting untuk di WOW-kan. Saya belum mandi dari tadi ketika bangun jam empat tepat. Saya malas mau mandi. Lagipula disini dingin. Airnya juga dingin.

Lalu saya ingat si Kartika Nirmala itu, dia di Nganjuk sekarang. Nggak tahu deh, dia ngapain. Menurut dugaan dan, sekali lagi, prediksi saya, mungkin ia keluar bersama kekasih pujaan hatinya yang sudah di kangeni-nya itu sampe lupa makan. Mungkin, saat ini, saat saya sedang menulis ini, dia lagi makan jagung bakar, atau nasi pecel, atau hamberger, atau barangkali makan kuah sambel balado dingin. Saya nggak tahu, saya bukan Tuhan Yang Maha Tahu. Saya hanya menebak, Bukankah manusia itu kerjaannya menebak?

Nasib atau barangkali bisa di katakan takdir(apa bedanya?) jadi yang nomer dua itu betul-betul tak membuat kita baik-baik saja. Kita tak bisa menuntut, dan ketika kita memaksakan untuk menuntut, itu akan jadi butiran debu saja. (Nama kucinta, ketika kita bersama, berbagi rasa untuk selamanya.) Ya, apalagi ketika kita mencoba memaksa untuk menjadi "nakal", tentu saja kita pun tak akan bisa menunaikannya. Sebab, kita yang memilih untuk menjadi yang kedua. Kita yang membuat keputusan! Kita tak bisa seenak udelnya sendiri. Asu ya?

Lama saya berfikir, lalu otak saya seperti terkilir. Jadi yang kedua enaknya hanya ketika kita bertemu saja. Enaknya hanya ketika kita bisa secara langsung melihat pesona laut dimatanya. Ketika secara pelan tapi pasti bibir kita meluncur tepat di pipinya. Ketika secara langsung tangannya kita remas kemudian kita bilang; "Tresnoku karo kowe koyo jaran. Ra tau anteng!" Ketika secara langsung kita bisa menemukan seikat pelangi yang terselip di bibirnya. Ketika secara langsung kita... ah pokoknya secara langsung!
Saat ia jauh, saat ia tak bersama kita, kita serasa hidup kita ini dipermainkan olehnya. Bagaimana tidak? Kita; saya disini murung-murungan tak jelas, sementara ia disana numpak-numpakan tangan dengan sekaleng soda. Bukankah ini menyakitkan bagi siapa pun? Tapi sekali lagi; ini sudah konskwensi! Kita bisa saja pergi dengan wanita lain atau lelaki lain untuk bersenang-senang menghabiskan waktu berjam-jam. Tapi ketika kita melakukan itu, sungguh tindakan kita menjadi yang kedua itu hanya buang-buang waktu saja. Untuk apa kita menjadi yang kedua jika kita cuma main-main?
Sejatinya jadi yang kedua adalah pengorbanan yang tak pernah selesai.

Saya merasa saya merasakan apa yang dulu mantan saya rasakan ketika ia sajelas-jelas saya duakan. Ah, pantas saja mantan saya itu melakukan tindakan extrem dengan memberitahu kelakuan saya pada pacar saya. Ia nggak betah jadi yang kedua! Aduh, duh, kasian sekali mantan saya itu. Maafkan saya ya? :')

Pesan moralnya adalah; please seseorang atau dewa bawakan saya nasi telur orak-arik. Saya lapar dan saya sakit. Asu.
***

Disini saya hanya menulis omong kosong. Tentu saja segala hal didalamnya pun juga omong kosong. Tapi terkadang omong kosong selalu Kun fayakun.


 











Jogja,

Wednesday, March 27

Obrolan Intim Dengan Hanif.

..begitulah, bagai sebuah gerimis, datang dengan tiba-tiba, pun pulang dengan tiba-tiba. Tanpa rencana, tanpa duga. Dengan sebuah kenangan yang lusuh, yang terlipat dalam sebuah hati yang menjerit. Perih..
Hanif, seorang teman yang sadar betul, bahwa hidup ini begitu tak terencana. Begitu rahasia. Seperti gerimis. Ya, gerimis. Ritmis.


Malam ini tak seperti biasanya, begitu banyak yang ia bagi denganku, banyak yang ia ceritakan padaku melebihi hal-hal sepele yang tak penting. Tentang sebuah kisah nano-nano dengan para wanita-wanita yang datang dan pergi di hati. Ia menangis, ah salah, maksudku ia menjerit! Kehilangan begitu menyiksa, Ia seperti ingin meneriakan sesuatu. Sesuatu yang sering di sebut-sebut orang sebagai; cinta sejati.

"Gw jomblo dah lima tahun, Res." Katanya singkat.

Aku tak merespon. Aku diam. Meski aku tahu ia butuh respon, tapi, apakah ini saat yang tepat untuk melawak? Tidak, kurasa tidak. Aku menunggu kata-kata selanjutnya. Kurasa ia serius. Ia ingin berkisah..

"Nggak ada yang bisa kaya dia, Res. Dia itu kaya maliakat, bidadari yang diturunin Tuhan buat ngerubah jalan pikiran gw. Gw jadi kaya gini gara-gara dia. Gw dulu tu masih kaya bocah, Res. Sering ngacao kalo sama cewe. Emank sich, gw nggak berubah jadi orang yang bener-bener baik, tapi seenggaknya dia buat gw jadi sadar kalo kebaikan itu emank penting di dunia yang makin kaya anjing ini. Dan itu nyata! Gw bener-bener bersyukur kenal sama dia. Dia malaikat. Bidadari. Penyelamat!"

Sejenak ku hisap Surya. Kubuang asapnya dengan satu kali desahan. Ah, lagi-lagi kenangan. Dadaku bergetar, entah karena apa. Tanganku juga bergetar, juga entah karena apa. Lalu aku bicara..

“Lima tahun bukan waktu yang dikit buat ngelupain seseorang, Nif. Gw tahu yang lu rasain, tapi gw nggak tau cara yang tepat buat ngubur masa lalu. Kadang masa lalu itu emank kaya anjing. Berengsek! Bikin kita nyesek. Bikin pening!”

Ia tak menjawab. Ia hisap Surya yang tinggal setengah lalu membuang asapnya dengan penuh penghayatan. Di titik ini aku tahu, bahwa ia lagi menyusun kenangan-kenangannya. Ia ingin bercerita  lebih jauh, tapi ku tahu pasti tak akan lebih dalam. Maka aku bertanya:

“Apa kabarnya sekarang, Nif?”

“Terakhir gw ketemu dia di lampu merah, Res. Dia masih cantik. Masih kaya bidadari. Dan itu ngga terbantah! Masih sempurna..”

“Kok nggak lu cegat?”

“Kagak lah, Res. Gw udah ikhlas ngelepas dia. Lagian dia udah dapet yang terbaik sebagai seorang wanita. Dia punya suami yang gw tau pasti sayang banget ma dia. Dia punya anak yang gw tau pasti bakal secantik dia nantinya. Dia punya keluarga yang bahagia. Ya, dia bahagia, Res. Dengan keluarganya..”

“Dah berapa lama lu jalan ma dia?”

“Sembilan bulan.”

“Mantan terlama?”

“Yes! Juga yang terbaik.”

Keadaan hening. Rokonya habis, dan aku belum. Terdengar sayup-sayup suara mp3 dari sebuah tempat yang jauh. Lampu masih benderang menerangi malam yang semakin naik. Kulirik ia sekilas. Ia nampak begitu lelah. Seperti kehilangan semangat yang biasa kulihat darinya. Ia jatuh(lagi) ke tempat itu. Ia merindukan masa-masa itu. Masa-masa terbaik dalam hidupnya selama berhubungan dengan mantanya tersebut. Nafasnya begitu panjang, tak teratur, dimatanya kulihat ada gerimis, meski tak menjadi hujan, tapi aku tahu pasti bahwa itu gerimis. Ya, itu gerimis! Maka aku jadi yakin, bahwa ia betul-betul ingin kembali ke saat-saat itu. Kenangan..

“Ceritain ke gw masa-masa yang paling berkesan pas lu sama dia?” kataku.

“Semuanya berkesan, Res!” jawabnya mantap.

“Yang paling, paling, paling!”

Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ia berhenti. Seperti tersendak biji duku. Sejenak ia meundukan kepala, lalu melanjutkan..

“Pas ujan, Res.”

Lagi-lagi suasana hening. Aku merasakan waktu melambat disekitarku. Seaakan dunia sedang mengarah padaku. Ia menundukan kepala lagi. Aih, kenapa selalu hujan? Hujan, hujan, hujan.

“Kita makan bakso, Res. Pas gw ngasih saos di piring gw, dia liat mata gw terus bilang, ‘Pake saos jangan banyak-banyak donk, nggak baik tau.’ Saat itu gw diem sich, Res. Tapi setelah itu dia pegang tangan gw, sambil bilang, ‘Kalo jadi cowo itu mbo yo sing teges.’ Nah! Disitu gw ngerasa hidup ini cuma buat gw dan dia. cuma buat kita! Ya, Res, buat kita! Bukan buat orang-orang diluaran sono yang cuma mikirin perut dan kelamin mereka. Dan sampe sekarang kata-kata itu selalu buat gw bangkit pas gw lagi drop. Tuhan emang Mahabaik, Res!”

“Ya, Nif. Tuhan emank Mahabaik.” Jawabku singkat. Aku berfikir sejenak kemudian bertanya..

“Sebab kenapa lu putus sama dia?”

“Sorry, Res. Gw nggak bisa cerita.”

“Ah, baiklah.”

Pokonya nggak ada yang bisa kaya dia, Res. Dia itu utuh kaya gitu. Dia dengan dirinya sendiri yang di mata gw bener-bener sempurna. Dia…. Ah, pokonya dia gokil! Dan gw harap gw bisa dapetin cewe yang kaya dia lagi.

Percakapan kami berhenti sejenak…

“Jadi ini alasan lu kenapa puasa sampe lima tahun?” tanyaku.

“Yes!”

Lalu kurasakan pening di kepala. Hatiku terus saja berkata-kata tak jelas. Aih, aku pernah seperti Hanif, aku pernah sekarat, aku pernah terjebak ke tempat paling menyeramkan di dunia, kenangan. Ah, betapa sempitnya hidup ini.

“Kenapa nggak lu tulis, Nif? Buat cerpen gitu?”

“Nggak Res, kemampuan berkata-kata gw nggak bakal bisa ngewakilin moment-moment berharga itu. Nggak ada yang mampu..”


***

Percakapan kami selesai. Ia pun pulang kerumahnya, ke Bantul. Aku sendiri di kos. Kemudian wajah seorang mantan muncul di langit-langit kamar, tak lama, hanya sedetik, kemudian pergi, dan muncul wajah seorang yang sekarang ku jaga. Pacaraku, aih betapa aku sangat tolol jika ia kusia-siakan! Tidak, aku sudah berdamai dengan hatiku. Aku tak mau membuang-buang waktu! Aku serius dengannya. Dengan seluruh nafas dan jiwaku. Ya, dengan seluruh hidupku..
Aku serius!

















Jogja,