Pages

Wednesday, May 2

Catatan untuk Biru Anamanta S Wahryan (diriku sendiri)

"Bahwa semua fenomena alam itu hanyalah bayang-bayang dari bentuk atau ide yang kekal. Tapi kebanyakan orang sudah puas dengan kehidupan di tengah bayang-bayang. Mereka tidak memikirkan apa yang membentuk bayang-bayang itu. Mereka mengira hanya bayang-bayang itulah yang ada, tanpa pernah menyadari bahwa bayang-bayang tersebut sesungguhnya hanyalah bayang-bayang. Dan dengan begitu, mereka tidak mengindahkan keabadian jiwa mereka sendiri."
Plato.


Gw rasa.,
"Terkadang manusia sering mengabaikan bisikan-bisikan lembut dengan lebih memilih bertindak bodoh !"




***


Sudahlah, biru...
karna tak melulu hidup ini hanya soal pertanyaan. Pertanyaan yang hanya membuat kepala mu puyeng dan memaksa mu untuk meminum obat bius.
Biru, kau masih ingat kan kata guru mu dulu? Bahwa tak selamanya Tuhan menciptakan akal hanya untuk bertanya dan menyesatkan pikiran dalam pertanyaan itu sendiri. Sesekali memang ada pertanyaan di hidup ini yang tak perlu timbul jawaban. Just be understanding saja, biru.


Biru, sebenarnya keharusan kita pada saat tercapainya titik kedewasaan, adalah tak perlu banyak bertanya tentang hidup dan untuk apa hidup itu di ciptakan. Di titik inilah biasanya manusia mulai hilang keseimbangan, mulai jatuh, lalu mati sia-sia.
Biru, bertanyalah yang sewajarnya saja. Yang masih bisa di proses oleh otak mahluk sejenis kita.
Jangan bertanya untuk suatu hal yang kau tau tidak ada yang tau jawaban nya. Itu akan malah menyakitkan mu, Biru. Sungguh.
Karna bukankah ada hal-hal yang tidak perlu kita ketahui di dalam berjalan nya proses kehidupan ini? Maka untuk itulah para ahli bahasa memperkenalkan kata "Rahasia" untuk menghentikan sebuah pertanyaan.



Biru, kalau boleh aku sarankan, hiduplah dalam hidup mu saja, karna hidup mu hanya untuk satu kali ini. Jadilah dirimu sendiri Biru, jadilah tuan bagi hidupmu sendiri. Dan disana, ditempat ketakutan bertempat, jalanilah, biru.


Tapi sekali lagi,
Just be understanding sajalah, biru.












Jogja.
Kutipan Plato di atas gw kutip dari novel filsafatnya Jostein Gaarder.

0 comments:

Post a Comment